Jika Seseorang Melakukan Kesalahan Berulang-Ulang Itu Berarti Dia Menikmati Akan Itu

Jika Seseorang Melakukan Kesalahan Berulang-Ulang Itu Berarti Dia Menikmati Akan Itu

Semua orang memang pernah dan pasti pasti sudah melakukan kesalahan. Baik kesalahan yang kecil atau fatal sekalipun. Dan kesalahan itu sudah kita lakukan dari kecil, dan itu wajar, karena kita berproses, kita tumbuh, kita akan belajar. Mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Sehingga kalian akan bertumbuh dan belajar. Dan kalian tidak akan melakukan kesalahan yang pernah kalian lakukan. Pun terjadi lagi, ada beberapa alasan, bisa saja karena dia tidak sengaja, atau memang dia menikmati dan nyaman dengan melakukan itu. Dia merasa itu tidak apa, dan dia nyaman dengan itu. Sehingga dia akan melakukannya berulang-ulang.

Jika Seseorang Melakukan Kesalahan Berulang-Ulang Itu Berarti Dia Menikmati Akan Itu

Ini berlaku di semua aspek. Jika kita tahu itu salah, dan kita benar-benar menyesalinya, kita tidak akan melakukannya lagi. Pun nanti kalian dihadapkan dengan momen dimana kita memiliki pilihan untuk bisa memilih berbuat kesalahan itu. Sebagai jalan pintas kalian keluar dari masalah kalian, atau untuk mengobati rasa jenuh dan suntuk kalian sementara. Sehingga kalian memiliki godaan untuk melakukan kesalahan yang sama. Karena itu bisa melepaskanmu dari beberapa situasi yang kalian tidak inginkan, atau karena itu memberikan kalian sebuah kepuasan di saat itu. 

Tapi jika kalian benar-benar menyesali akan pernah melakukan kesalahan itu, kalian akan dengan tegas pada diri anda untuk mengatakan tidak melakukan kesalahan itu. Kalian tidak akan berpikir lama, kalian dengan tegas mengatakan bahwa ini yang kalian inginkan. Kalian tahu itu salah dan ya jangan lakukan lagi. Berat memang melakukan hal tersebut. Karena godaan yang besar. Itulah kenapa tidak ada orang yang sempurna. Karena semua orang ada saatnya terbawa akan situasi dan godaan yang ada. Sehingga melakukan kesalahan yang sama. 

Tapi jika dia tanpa ragu melakukan lagi kesalahan itu, dan misalnya dia menyesali. Tapi tidak lama setelah itu, dia melakukan kesalahan yang sama lagi. Itu jelas bukan tidak sengaja. Itu bukan khilaf. Tapi dia memang nyaman dengan itu. Dia merasa itu oke-oke saja. Dia memberikan toleransi untuk hal tersebut. Tapi karena pada umumnya orang mengatakan itu salah, maka mau tidak mau dia akan mengatakan maaf, dan berjanji tidak melakukan itu. Tapi dia tahu, nanti dia akan melakukan itu lagi. Maaf yang dikatakannya hanya sebagai untuk menenangkan keadaan dan tidak memperpanjang masalah.